Cerita Kecil (Bag. II)

1
Hasrat ingin bertemu begitu menggebu-gebu, namun cuaca sama sekali tak mengijinkan kita untuk menuntaskan rasa rindu yang begitu melimpah. Hujan sedari siang tak kunjung menampakkan kebaikkannya sedikit pun untuk reda. Mengapa kamu hujan tak mengerti jika kita sudah sangat rindu untuk berjumpa.
Lagi-lagi, aku dan kamu hanya bisa berinteraksi melalui percakapan berupa tulisan di layar handphone. Alangkah menyiksanya perasaan ingin bertemu ini, perjumpaan tak kunjung menjadi kenyataan. Interaksi melalui media digital tak bisa mewakili sedikit pun rasa rindu. BBM, Line maupun video call tak ampuh memupuskan rindu.

Kita berbincang hingga pagi, hingga matahari mulai malu-malu mengintip di balik awan. Entah sudah berapa ratus ribu aksi jempol kita menekan setiap tuts huruf di handphone.
Kita memang butuh interaksi secara nyata.

2
Belakangan ini kamu sibuk, sehingga intensitas komunikasi kita meredup. Tapi bukan berarti kita saling melupakan dengan kesibukan, setidaknya bila ada jeda, kita menyempatkan diri untuk saling menyapa. Kesibukanmu yang di dorong oleh rasa kemanusiaan, sungguh membuatku begitu respek. Luar biasanya dirimu sebagai perpanjangan tangan dari kepedulian sosial, membuat orang seperti diriku menjadi minder.

Dirimu sempat meracau, memuntahkan pendapat yang didorong oleh nuranimu yang melihat kenyataan yang membuatmu sibuk beberapa hari dengan sedikit bumbu emosi. Aku mengerti, dari sisi humanismu dan dalam kondisi kelelahan, terkadang memang kita sulit untuk meredam emosi, dan aku mencoba menenangkan. Aku coba. Aku tak mau melarang-larangmu untuk emosi, namun apabila menyentuh kepentingan orang banyak, aku kira perlu diredam agar tensi diantara orang yang kukenal segera turun kembali dan dapat cair dengan sedikit guyon.

Ketika dirimu dapat kembali ke tempat tinggal, untuk istirahat atau menormalkan kembali ritme hidup, kita menyempatkan diri untuk bertatap muka melalui perantara media digital. Sekejap, tapi setidaknya memupuskan kegusaran setelah beberapa hitungan tanggal tak saling menunjukkan ekspresi wajah. Kamu terlampau lelah, sehingga tatap muka kita hanya beberapa saat. Tapi bagiku, itu lebih dari cukup. Hingga akhirnya kamu tertidur dan siap kembali esok hari melanjutkan kesibukan yang sempat terputus. Semoga kamu menjadi inspirasi bagi orang lain.

3
Beberapa hari lalu kamu menceritakan beberapa orang terdekatmu. Kamu mengirimkan fotonya, lalu menyertakan beberapa pengantar mengenai orang tersebut. Alasan-alasan mengapa kamu dekat dengannya, termasuk bagaimana kamu mendeskripsikan hubunganmu dengannya yang kelewat dekat, sedekat seseorang yang memiliki hubungan darah. Ya, kamu memang merasa nyaman berada di dekatnya, setidaknya begitu yang kamu ceritakan padaku. Terkadang memang kita membutuhkan orang dekat untuk mencurahkan isi hati, untuk berbagi kesenangan dan kesedihan, untuk meminta saran, atau untuk sekedar meminta saran, orang dekat yang mampu menjaga rahasia, mampu menjaga kepercayaan.

Kemudian kamu mengirimkan foto-foto keluargamu, sehingga aku pun merasa begitu dekat denganmu, merasa aku mulai dikenalkan dan sedikit-sedikit diijinkan melangkah masuk ke dalam cerita keluargamu. Setidaknya begitu yang terlintas dalam pikiranku. Tanpa segan pula, kamu menceritakan sedikit mengenai mereka yang mempunyai hubungan darah denganmu. Mengapa begini, mengapa begitu, apa yang disukainya, apa yang sering dilakukannya, dan sempalan-sempalan cerita mereka yang kamu tuturkan dengan semangat agar aku mengetahuinya.

Sayangnya, aku tak pernah menyimpan foto-foto orang-orang yang mempunyai hubungan darah denganku, sehingga aku tak dapat membalas keingintahuanmu tentang latar belakangku. Mungkin bila tepat saatnya, kamu akan bertemu dengan mereka langsung, dapat saling melempar senyum dan kemungkinan dapat berjabat tangan atau sungkem. Itu hanya angan-angan yang ada di benakku, namun aku berharap menjadi kenyataan.

Seserius itukah hubungan -yang entah disebut apa- kita sayang? Aku harap kita dapat terus menyusuri lorong gelap ini hingga sampai kepada cahaya yang tampak bersinar di bibir lorong sana bersama-sama. Itu pun bila yang memiliki kuasa mengijinkan, begitu yang kerap kita katakan saat kita berharap. Kita memang selalu berharap yang baik-baik, selama kita mencoba, memang tak ada salahnya melangkah bersama.

4
Semenjak kemarin kamu tampak kesal, ah marah tepatnya, ketika memergokiku memperbincangkan sebuah masa lalu yang sangat kamu benci itu. Beberapa kali sebelumnya pun kamu mencemburui berbagai hal dari masa laluku yang memang tak layak aku tampilkan ke hadapanmu, mulai dari kenangan, foto-foto hingga tulisanku yang berkenaan dengan sesuatu di masa lalu.

Gelagat itu mampu kutangkap ketika aku mencoba berkomunikasi denganmu namun kamu respon dengan sangat dingin, simple, sesimpel menyimpulkan bahwa aku berbohong mengenai masa lalu tersebut. Tak ada nada-nada bahagia sepotong pun dari setiap percakapan kita beberapa jam terakhir ini. Padahal aku sudah mencoba untuk menerangkan sesungguhnya bagaimana hatiku sekarang, bagaimana ruang hatiku yang sudah tak memiliki tempat barang sepetak pun untuk sesuatu bernama masa lalu tersebut, bahkan aku harus terus memohon kamu untuk mengerti, mendengar penjelasanku. Tapi tampaknya tak ada celah yang mampu ku lewati, bahkan kemungkinan terkecil pun sudah menjelma menjadi ketidakmungkinan pada area sempit yang tidak mungkin.

Aku punya alasan atas apa yang kulakukan mengenai sesuatu bernama masa lalu tersebut, tak ada niat untuk merusak perasaanmu. Aku sedang mencairkan suasana kekisruhan sebuah adu pendapat tidak sehat di antara kedua temanku. Aku memanfaatkan sesuatu bernama masa lalu tersebut sebagai lelucon, agar suasana bersitegang antara beberapa individu itu bisa luluh, namun kenyataan berkata lain. Kamu sudah terlanjur untuk tak menyukainya dan aku sama sekali tak berkutik.

Biasanya, rentang beberapa jam kemudian, kamu bisa mendapatkan dirimu kembali dengan mood yang bagus, tetapi kali ini tidak. Rupanya kamu kelewat serius melihatnya. Ah.. aku tak mau memaksamu untuk percaya dan aku pun sudah yakin bahwa diriku tak lagi dibayangi sesuatu bernama masa lalu itu, masanya telah lewat. Aku telah menemukanmu, sudah sangat yakin akan dirimu, sehingga ketika aku tak dapat beraducakap denganmu, aku dinaungi kegusaran yang teramat sangat.

Entah berapa lama ketidaknyamanan ini terjadi antara kamu dan aku, mungkin beberapa hari ke depan, mungkin juga selamanya. Aku tak bisa berharap banyak akan sesuatu hal yang lebih baik, semua keputusan ada di tanganmu.

Bila hubungan -yang entah disebut apa- ini harus terhenti, maka terhentilah tanpa ada kebencian antara aku dan kamu. Sejujurnya pun, aku merasa kehilangan, merasa ada area kosong yang hanya bisa diisi oleh sosokmu. Aku masih merinduimu, masih menyayangimu, bahkan masih mencintaimu. Sama sekali tidak mungkin bagiku untuk berbalik sikap 180 derajat terhadapmu, semuanya akan berubah, namun tak segera, prosesnya perlahan-lahan, berangsur-angsur, sedikit demi sedikit. Aku terlanjur mencintaimu. Aku masih merasa bersalah, bahkan bila diberi maaf, aku merasa dunia berputar kembali, mentari bersinar kembali dan udara kembali berhembus.

Semoga cerita kecil ini tak terhenti hingga di sini saja dengan kesedihan-kesedihan yang tak layak jadi penutup. Aku ingin cerita kecil ini berlanjut, dengan sejuta keinginan untuk merubah kesalahan di masa lalu menjadi pelajaran di masa yang akan datang.

Dari dalam hati yang terdalam, aku masih ingin menjalani hubungan ini, masih merindukan untuk menatap senyummu pada dini hari malam-malam terdingin, mendengarkan keluh kesahmu, mendapatkan kabar gembiramu, hingga menyediakan pundakku sebagai sandaran kepalamu. Bila rencana berakhir bahagia, aku hanya ingin semua kembali ke posisi semula.

5
Bila Tuhan mengijinkan, maka bagian ini bukan penutup sebuah cerita kecil yang kutuliskan setelah aku mendapatkan momen-momen berharga denganmu, kesan-kesan paling bermakna denganmu. Aku terlanjur mencintaimu.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s