Cerita Kecil (Bag.III)

Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bendungan bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang. –Pramoedya Ananta Toer

Pada beberapa bagian kotaku, jalanan dibasahi oleh air hujan yang semenjak siang tadi tak juga reda. Aku memacu tungganganku menuju pusat kota dan menemukan kenyataan bahwa tak ada sedikit pun air menetes dari langit membasahi pusat kota. Kamu menyapaku ketika baru saja terbangun dari tidurmu melalui handphone-mu. Tak ada sedikit pun tanda-tanda yang akan membuat perasaan ini gusar. Hingga akhirnya kita harus mengakhiri cerita kecil ini yang tentunya membuat hati terperanjat. Setidaknya, semua berakhir dengan ujung yang sama sekali tak ada unsur kebencian.

Entah bagaimana perasaanmu saat harus menentukan akhir dari cerita kecil menulis cinta ini. Dari sisi diriku, aku merasakan kehancuran. Namun aku berpikir, bila itu yang terbaik, mengapa tidak. Tak semua yang harus diakhiri itu buruk dan tak selalu seluruh cerita berakhir bahagia, bukan? Kamu pasti tahu itu. Gelagat-gelagat buruk telah aku rasakan semenjak sebelum tidur kemarin malam dan memang seperti biasa, intuisiku berkata benar. Aku tak dapat mengelak sedikit pun dari kenyataan ini. Semenjak awal kedekatanku dengan kamu, aku sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, hingga akhirnya resiko yang telah diperhitungkan sejak awal benar-benar terjadi.

Suatu malam nanti, pasti kerinduan-kerinduan akan kenangan-kenangan terindah yang pernah kita goreskan pada kertas hubungan kita yang tak jelas ini pasti muncul kembali. Kita tak dapat menolak kehadiran kenangan tersebut, dia akan hadir pada saat-saat yang tidak pernah kita ketahui. Aku ingin agar kamu tetap baik-baik saja mengatur kehidupanmu tanpa memandang sisi buruk yang akhirnya memutuskan perjalanan cerita kecil ini.

Kita telah melakukan yang terbaik dan tak perlu ada lagi yang perlu dirisaukan. Jaga selalu senyummu untuk orang-orang di sekitarmu. Bungkam semua omongan miring, tepis semua kesan negatif. Kita memulai cerita kecil ini tanpa paksaan dan mengakhirinya tanpa maksud saling menghinakan. Ingatlah bahwa kita telah melewati momen terindah dalam hidup walau hanya sekejap.

Setidaknya kamu telah berhasil menuliskan cinta tanpa perlu merangkai sederetan huruf yang membentuk kalimat tak jelas dan aku bisa membacanya dengan lancar setiap tulisan cinta yang kamu tuliskan itu. Kamu pun telah menemukan saatnya dimana tulisan cinta yang kamu ciptakan harus diakhiri dengan titik.

Kita akhiri kisah perjalanan di lintasan sepi yang kita telah kita lewati ini bukan dengan tanpa kecocokan atau tanpa rasa sayang, melainkan ada hal lain yang menjadi alasan bahwa semua ini harus berakhir. Kita sudah terlanjur saling mencintai, namun lintasan sepi yang kita tapaki tak pernah sepi juga dari sepejal bebatuan yang tergeletak pada jalur yang kita lewati.

Biarlah semua ini berakhir menyedihkan, tetapi tanpa kebencian antara kamu dan aku. Aku masih menyimpan keyakinan yang kuat dari ungkapan sayang terakhir yang kamu berikan. Bila suatu saat nanti kita harus membuat cerita kembali, aku harap bukan seperti cerita kecil yang berujung kekelaman hati ini, melainkan sebuah novel yang ditutup dengan kebahagiaan.

Dari malam-malam terdingin, hingga hari-hari paling terik, aku akan selalu merindukanmu. Atas pelukan hangat atau senyuman manis yang pernah kamu berikan, aku anggap sebagai anugerah yang pernah aku terima. Belum sempat mimpi-mimpi ini menjadi kenyataan, kita telah terbangun dengan kesadaran yang begitu pedih.

Aku akan berusaha untuk menutup cerita kecil ini dengan ketenangan hati dan mencari inspirasi lain yang tak kalah bagusnya dengan keindahan tulisan cinta kamu yang luar biasa ini. Bukan aku atau kamu yang memutuskan untuk mengakhiri cerita kecil ini, namun semesta yang belum memihak pada kita. Hubungan ini, yang entah disebut apa, harus kita tutup dengan kesedihan yang tak terperi. Suatu saat nanti kita pasti menemukan hubungan yang akan kita ketahui sebutannya dan jelas jalannya.

Pelajaran berharganya adalah bahwa cinta dibangun tanpa paksaan dan tanpa merendahkan yang lain. Semua proses saling memberi kepercayaan dan memberi tempat paling nyaman di hati masing-masing, membuat semua ini begitu sempurna. Setidaknya kita telah mencoba dan berusaha.

Hingga malam hari hujan belum reda juga, udara kelewat dingin menusuk-nusuk tulang. Aku menemukan diriku terbaring dan terbungkus selimut tebal. Aku merasakan kehangatan lain yang tak sehangat sebelumnya. Aku yakin hujan pasti reda dan walaupun ada pelangi, mungkin tak akan terlihat karena langit masih teramat gelap. Aku akan tetap teringat kalimat terakhir yang kamu kirimkan.

Playlist:
– Ubiet & Dian HP – Menulis Cinta
– Ten 2 Five feat. Rudi Caffeine – Aku Untukmu
– Minnie Riperton – Lovin’ You
– Tulus – Jatuh Cinta
– Soko – Take My Heart

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s