Kala Langit Mulai Redup dan Lampu Mulai Dinyalakan.

Semalam kamu menginap di rumahku, sama sekali tak ada batasan yang menghalangi mu untuk tidur di kasur yang sama denganku. Kita terlalu dekat bila hanya disebut sebagai seorang teman atau sahabat, namun terlalu naif bila kita memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Entahlah, hubungan yang tak jelas ini sangat aku dan kamu nikmati, tanpa peduli hubungan pacar atau sekedar teman. Setidaknya kita selalu saling dibutuhkan disaat aku atau kamu membutuhkan, kita saling tersedia bila diperlukan.

Sore itu hujan deras tak kunjung reda dan cuaca dingin melingkupi rumahku. Sudah dua hari kamu menginap di rumahku. Kebetulan aku pun sedang malas untuk pergi ke kantor, beberapa pekerjaan aku lakukan dari rumah saja. Kamu pun sedang tak ada perkuliahan, sehingga memiliki waktu luang untuk bersantai denganku. Berbagai aktifitas kamu lakukan di rumahku, seperti memasak, membersihkan rumah dan juga merawat bunga-bunga di taman belakang rumahku. Bunga-bunga itu adalah permintaan darimu sendiri, hingga mau tidak mau, kamu juga harus bertanggung jawab untuk merawatnya.
Beranda belakang rumahku adalah salah satu tempat favoritmu, setidaknya begitu yang sering kamu lontarkan kepadaku. Alasannya, kamu bisa melihat taman, dimana di sana kamu bisa melihat bunga-bunga yang merekah, berwarna-warni. Aku pun demikian. Sore ketika hujan itu, aku duduk di beranda, sementara kamu menyiapkan teh hangat dan sedikit kudapan untuk dapat kita nikmati di sela-sela percakapan yang kerap kita lakukan di beranda belakang rumah.

Kamu menghampiriku di beranda sambil membawa teh hangat dan sepiring kudapan yang telah kamu siapkan. Aku menatapmu, lalu melempar senyum yang kamu balas dengan kedipan mata genit.

“Makasih, sayang.” Kataku.

“Makasih doang? Ga akan dikecup nih?” Kamu menimpali sambil memasang wajah untuk dikecup. Aku tertawa kecil lalu beranjak dari kursi untuk mencium pipimu.

“Sudah dua hari kamu tinggal di sini, apa pacarmu ga nyariin?” Aku memulai obrolan.

“Kok nanya gitu? Ngusir secara halus yah?”

“Em..em.. ngga sayang, aku beneran penasaran aja pengen tau gimana sebenarnya. Lagian kalo pengen ngusir kamu udah dari kemaren kali. Eh.”

“Oh.. jadi gitu?”

“Arrghhh.. ngga ih, beneran deh. Ciyuuss..” Aku berusaha meyakinkannya.

“Ngga ah, dia ga akan nyariin aku. Lagian udah dua minggu juga aku dan pacarku ga ketemu. Terakhir kali dia SMS juga dua hari yang lalu, emang kenapa?” Kamu bertanya balik.

“Gapapa, aku cuma pengen tau. Aku ngerasa ga enak aja sama pacarmu. Masa kamu lebih mesra dan dekat sama aku ketimbang sama dia.”

“Ah biarin aja, perasaan kan ga akan bisa ditipu. Aku lebih nyaman di rumah ini, sama kamu, sama bunga-bunga itu dan sama hujan ini.”

“Terus kalo pacarmu tau kita dekat seperti ini gimana?” Aku berusaha mencari kenyamanan juga. Sementara dirimu menenggak teh hangat yang ada di meja lalu menyalakan sebatang rokok.

“Ya biarin aja tau juga, paling diputusin.” Jawabmu dengan cuek.

“Aku terkadang merasa heran dan ingin tahu, bagaimana bisa kamu membagi perasaan. Aku berpikir, ketika kamu berada di dekatku, kamu akan melupakan pacarmu, sementara ketika kamu sedang bersama dengan pacarmu, mungkin kamu tak peduli denganku. Bagaimana mungkin kamu bisa memilah perasaan kamu itu dengan sangat profesional, mungkinkah sebuah hati ditempati oleh dua insan sekaligus? Bukankan akan menimbulkan konflik dalam batinmu sendiri?” Tandasku dengan tegas.

“Entahlah sayang, aku pun bingung, tapi sejujurnya hati aku lebih memilih kamu ketimbang pacarku itu. Emang dia baik, dia sudah berubah dari dia yang terdahulu, yang sering kasar denganku. Tetapi, sekarang aku juga merasa lebih nyaman berada dekat denganmu.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Kamu punya sesuatu yang spesial buatku selain rasa nyaman yang kudapatkan.”

“Apakah yang spesial dariku? Aku tak punya apapun yang bisa aku banggakan.”

“Yang spesial darimu hanya aku yang merasakan dan Tuhan yang tahu” dirimu menimpali dengan tenang.

“Hmmm…”

“Kamu belum mengerti batasan-batasan cinta rupanya.”

“Batasan-batasan seperti apa?” Aku penasaran.

“Kamu tahu? Aku mencintaimu dari lubuk hati yang terdalam, sedangkan untuk pacarku, aku hanya mencintai dipermukaan, untuk penawar rasa hausku saja, dalam keadaan tersadar. Tak pernah aku merasakan cinta dengan pacarku dalam keadaan benar-benar terbuai atau mabuk asmara, itulah yang membuat perasaan cintaku dengan pacarku terasa hambar. Sedangkan denganmu, aku merasa ada guncangan hati yang membuatku selalu tak bisa lepas dari sesuatu seperti hipnotis atau naungan rasa yang begitu indah, saking indahnya hingga sulit aku lukiskan ke dalam kalimat. Hasrat-hasrat yang muncul untuk selalu merinduimulah yang mendorongku untuk menikmati perasaan ini denganmu. Hasrat-hasrat yang entah dari mana datangnya, yang secara tak aku sadari membuatku melihatmu lebih dari apa pun di dunia ini. Mungkin ini terlalu berlebihan, namun itulah yang benar-benar aku rasakan. Mudah-mudahan kamu bisa memahaminya, batasan-batasan yang memiliki takaran seperti air beralkohol, yang satu memiliki kadar alkohol yang tinggi hingga memabukkan, sedangkan yang lainnya memiliki kadar alkohol nol persen hingga tak terasa apa pun.” Kamu menjelaskan dengan panjang lebar.

“Baiklah bila begitu, kamu mengikuti intuisi dan berusaha membuat batasanmu sendiri. Apa kamu tak pernah berpikir bagaimana perasaan orang lain yang juga menganggap bahwa bersama dirimu begitu memabukkan? Atau begini deh, bagaimana dengan usaha pacarmu itu yang begitu kerasnya untuk dapat mencintaimu hingga dia mau berkorban, melakukan apa pun demi kamu, hanya untuk mendapatkan cinta yang setimpal darimu?”

“Cinta itu ketertarikan dua hati, bila kadar cinta salah satu hati kurang dari hati yang satunya lagi, apakah itu yang disebut cinta? Aku kira bukan, bukan seperti itu. Itu paksaan salah satu pihak saja, pihak yang mencintai, tapi untuk yang dicintai itu merupakan penderitaan apabila dipaksa untuk mencintai.” Begitulah ungkapmu, sementara aku mulai menyalakan rokokku, menghisap sekali dan mengepulkan asapnya ke atas, kemudian meraih gelas dan meneguk teh hangat yang mulai dingin. Hujan pun masih tak kunjung reda, berpacu bersamaan dengan obrolan aku dan kamu. Mentari pun mulai terbenam, gorengan di piring pun sudah berkurang.

“Lantas, apabila aku tak mencintaimu bagaimana? Karena aku pikir, aku mesti menghargai pacarmu itu dan tidak serta-merta pula rasa cinta yang ada dalam hatiku bisa dengan sendirinya hadir menyambut cinta darimu.” Aku penasaran.

“Sekarang begini, kamu ingat beberapa hari kemarin aku tak sedikitpun menyapamu baik lewat telepon maupun SMS?”

“Ingat dong!”

“Nah, bagaimana rasanya?”

“Kangen.”

“Yes! Itu dia! Sekarang kalo misalnya aku ga komunikasi lagi denganmu dan tak ingin bertemu denganmu lagi, juga ga akan ke rumah ini lagi, kira-kira bagaimana? Boleh?” Ujarmu dengan nada mengancam. Dengan sigap aku menimpali. “Eh. Jangan dong, jangan gitu”

“Hahahaha.. kenapa jangan?” Kamu merespon sambil tertawa.

“Kenapa yah? Aku takut aja ada perasaan kehilangan yang menggangguku.” Aku menjawab dengan bingung dan agak malu-malu.

“Nah, itu berarti kamu sudah mulai mencintaiku.. bweeee.” Kamu berkata sambil menjulurkan lidah seperti sedang mengejek.

“Ah bener juga yah.. hehehe..”

“Sekarang kamu tau kan sayang gimana batasan-batasan itu, perasaanmulah yang membentuk batasan-batasan itu.”

“Sebenernya udah lama tau sih, cuma akunya aja ga sadar kalo itu merupakan batasan-batasan dalam perasaan.  Yang paling aku sadar ya aku selalu memikirkanmu, itu aja sih.”

“Awas ah jangan kebanyakan mikirin aku, ntar kamu kanker otak.”

“Jika mencintaimu adalah penyakit, maka biarkan aku di rawat inap selamanya di rumah sakit. Hahahha.”

“Hahahaha…”

Aku dan kamu tertawa lepas hingga akhirnya obrolan ringan itu harus disudahi karena udara teramat dingin dan taman sudah tak terlihat lagi akibat cahaya yang mulai meredup. Kamu membereskan gelas dan piring, sedangkan aku berjalan menuju kamar dan menunggumu untuk bisa memberi kehangatan dengan berpelukan dan bercumbu.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cuap-cuap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s