Kang Ibing dan Musik Persib

Kang IbingBanyak seniman besar yang berasal dari tanah Pasundan, salah satunya adalah Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata atau yang lebih populer dengan panggilan Kang Ibing. Beristrikan Ny. Nieke, Kang Ibing dianugerahi tiga orang anak, yaitu Kusmadika, Kusmandana dan Diane. Logat bicaranya yang kental dengan dialek khas Sunda, peci sebagai penutup kepala dan sarung yang selalu diselendangkan pada tubuhnya menjadi ciri khas yang melekat pada Kang Ibing. Ciri khas tersebut berhasil menggambarkan kesederhanaan sosok yang humoris dan pandai melawak tersebut pada diri Kang Ibing.

Seniman ranah Jawa Barat yang lahir di Sumedang pada tanggal 20 Juni 1946 ini pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Sastra Unpad Jurusan Sastra Rusia namun tidak sampai lulus. Pada saat masih duduk di bangku kuliah, Kang Ibing pernah menjabat sebagai Ketua Kesenian Daya Mahasiswa Sunda, Penasihat Departemen Kesenian Unpad dan juga pernah menjadi asisten dosen di Fakultas Sastra Unpad. Pada Desember 2010, sebuah penghargaan khusus diberikan kepada Kang Ibing bersama empat orang lainnya sebagai warga Jabar terbaik yang selama hidupnya memiliki dedikasi dan loyalitas dalam menjalankan profesinya hingga mengangkat citra Jawa Barat di tingkat nasional hingga internasional.

Kang Ibing mengawali karirnya ketika menjadi pembawa acara Obrolan Rineh di Radio Mara Bandung. Kemudian pada tahun 1970-an, bersama dengan Aom Kusman, Suryana Fatah, Wawa Sofyan dan Ujang, beliau membentuk grup lawak De Kabayan. Di tahun 1975, film Si Kabayan yang disutradarai oleh Sofyan Sharma merupakan debut Kang Ibing dalam berakting. Berperan sebagai tokoh utama, Kang Ibing cukup sukses memerankan Si Kabayan, seorang tokoh legendaris cerita rakyat Pasundan, dan film tersebut mengantarkannya menuju puncak popularitas. Tidak hanya dalam satu film itu saja, selanjutnya Kang Ibing juga beberapa kali tampil dalam beberapa film lainnya, seperti Ateng The Godfather (1976), Bang Kojak (1977), Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), Boss Carmad (1990), Komar Si Glen Kemon Mudik (1990), Warisan Terlarang (1990) dan Di Sana Senang Di Sini Senang (1990). Selain mahir sebagai pelawak dan aktor, Kang Ibing juga melantunkan tembang-tembang khas Sunda.

Tidak hanya aktif dalam berkesenian, Kang Ibing juga dikenal sebagai seorang bobotoh Persib. Sebagai bentuk kecintaannya terhadap Persib, Kang Ibing menciptakan lagu “Jung Maju Maung Bandung” yang sudah ada sejak jaman perserikatan. Ketika Persib menjuarai Liga Indonesia tahun 1991, lagu “Jung Maju Maung Bandung” yang dibawakan Kang Ibing kerap muncul di TVRI dan cukup populer.  Dari lagu tersebut pula, Persib Bandung memiliki julukan baru yaitu Maung Bandung. Lagu yang diiringi musik khas Sunda dengan suara seruling bambu yang cukup dominan sebagai bridge dan melodi dalam beberapa bagian lagu. Pada beberapa bagian juga terdengar suara latar belakang perempuan sebagai pengiring dan pelengkap membuat lagu ini begitu nikmat didengarkan. Lagu pop Sunda ini diawali oleh intro suara komentator sepakbola saat Persib bertanding, kemudian diikuti bait pertama lalu diselingi semacam kalimat wejangan untuk pemain Persib, Mihape, barudak.. Persib  ulah nepi ka eleh. Sing meunang. Hidup Persib! (Titip anak-anak.. Persib jangan sampai kalah. Semoga menang. Hidup Persib!) sebelum berlanjut ke bait kedua dan refrain. Pesan-pesan positif seperti “Kudu meunang ku cara satria (harus menang dengan cara ksatria) dan “kade poho, cantik, sportif di lapangan” (awas lupa, cantik, sportif di lapangan) juga disematkan ke dalam liriknya. Berikut lirik dari lagu tersebut:

Jung Maju Maung Bandung

Intro
Sodara2, penyerang Persib berada di daerah lawan,
Tendangan… Masuuuk sodara2…
Bertambah lagi kemenangan untuk Persib Bandung.

I
Hey Persib Bandung… padungdung geura tarung.
Hey jangan kalah, geura tandang diiring pidu’a abah.
Hey ulah rek keueung, sing reugreug teuneung ludeung.
Nu penting mah Persib tea, kudu meunang ku cara satria.

[Mihape barudak…
Persib ulah nepi ka eleh.
Sing meunang.
Hidup Persib !!!]

Eleh meunang olahraga mah biasa.
Nu penting mah urang teh berjuang heula.
Jung padungdung Persib Bandung geura tarung.
Eleh menuang urang Bandung moal pundung.

Reff.
Jung maju Maung Bandung.
Patandang geura sing meunang.
Ulah ringrang tong hariwang.
Kade poho cantik sportif di lapangan.
Jung maju Persib Bandung.
Patandang mawa harepan…
Ulah ringrang tong hariwang.
Kade poho cantik sportif di lapangan.

Persib, Maung bandung
Persib, Jalu bandung.
Persib, Urang Bandung.
Persib nanjung mawa ngaran urang Bandung.

Jung maju Persib Bandung…………… (Choir)

Lagu lain yang dinyanyikan oleh Kang Ibing untuk Persib adalah lagu berjudul Hariring Persib. Lagu yang berkolaborasi dengan Ansambel Gamelan Kyai Fatahilah tersebut disisipkan ke dalam album Kompilasi Viking Persib II bersamaan dengan lagu-lagu dari seniman Bandung lainnya, seperti Doel Sumbang, Tataloe Percussion, Forgotten, dan lain-lain. Lagu dengan musik Sunda dan lirik yang terbilang cukup sederhana, hanya terdiri dari empat baris kalimat, namun dengan iringan musik gamelan dari Ansambel Gamelan Kyai Fatahilah dan salah satu bait dilafalkan oleh sinden, membuat lagu ini tidak membosankan.

Hariring Persib

Persib Bandung, pangeran biru.
Maung Bandung, aku mendukungmu.
Persib menang, aing senang.
Persib eleh, aing ngalehleh.

Persib Bandung, si pangeran biru
Maung Bandung, kesayangan …
Persib menang, duh hate senang..
Persib eleh, aing ngalehleh..

Persib Bandung, pangeran biru.
Maung Bandung, aku pendukungmu.
Persib menang, kuring senang.
Persib eleh, aing ngalehleh.

Di ujung hidupnya, Kang Ibing juga dikenal sebagai seorang penceramah. Gaya ceramahnya yang disertai dengan nilai-nilai filosofis yang dibalut candaan, membuat para pendengarnya tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapatkan pelajaran serta hikmah dari topik yang disampaikannya. Kang Ibing telah meninggal pada tanggal 19 Agustus 2010 di Bandung karena penyakit jantung, namun seniman yang banyak memberikan kontribusi dalam bidang seni dan edukasi untuk masyarakat, masih lekat dalam ingatan bobotoh dan masyarakat luas, baik Sunda maupun non-Sunda, sebagai seorang seniman yang berbakat, inspiratif, cerdas, apa adanya dan rendah hati.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Football

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s