Category Archives: Fiksi

Cerita Kecil (Bag.III)

Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bendungan bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang. –Pramoedya Ananta Toer

Pada beberapa bagian kotaku, jalanan dibasahi oleh air hujan yang semenjak siang tadi tak juga reda. Aku memacu tungganganku menuju pusat kota dan menemukan kenyataan bahwa tak ada sedikit pun air menetes dari langit membasahi pusat kota. Kamu menyapaku ketika baru saja terbangun dari tidurmu melalui handphone-mu. Tak ada sedikit pun tanda-tanda yang akan membuat perasaan ini gusar. Hingga akhirnya kita harus mengakhiri cerita kecil ini yang tentunya membuat hati terperanjat. Setidaknya, semua berakhir dengan ujung yang sama sekali tak ada unsur kebencian.

Entah bagaimana perasaanmu saat harus menentukan akhir dari cerita kecil menulis cinta ini. Dari sisi diriku, aku merasakan kehancuran. Namun aku berpikir, bila itu yang terbaik, mengapa tidak. Tak semua yang harus diakhiri itu buruk dan tak selalu seluruh cerita berakhir bahagia, bukan? Kamu pasti tahu itu. Gelagat-gelagat buruk telah aku rasakan semenjak sebelum tidur kemarin malam dan memang seperti biasa, intuisiku berkata benar. Aku tak dapat mengelak sedikit pun dari kenyataan ini. Semenjak awal kedekatanku dengan kamu, aku sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, hingga akhirnya resiko yang telah diperhitungkan sejak awal benar-benar terjadi. Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Cerita Kecil (Bag. II)

1
Hasrat ingin bertemu begitu menggebu-gebu, namun cuaca sama sekali tak mengijinkan kita untuk menuntaskan rasa rindu yang begitu melimpah. Hujan sedari siang tak kunjung menampakkan kebaikkannya sedikit pun untuk reda. Mengapa kamu hujan tak mengerti jika kita sudah sangat rindu untuk berjumpa.
Lagi-lagi, aku dan kamu hanya bisa berinteraksi melalui percakapan berupa tulisan di layar handphone. Alangkah menyiksanya perasaan ingin bertemu ini, perjumpaan tak kunjung menjadi kenyataan. Interaksi melalui media digital tak bisa mewakili sedikit pun rasa rindu. BBM, Line maupun video call tak ampuh memupuskan rindu.

Kita berbincang hingga pagi, hingga matahari mulai malu-malu mengintip di balik awan. Entah sudah berapa ratus ribu aksi jempol kita menekan setiap tuts huruf di handphone.
Kita memang butuh interaksi secara nyata.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Cerita Kecil (Bag. I)

1
Sore itu aku sedang minum jus, ketika itu pula kamu sedang berkomunikasi denganku. Aku tak pernah tahu, apakah saat itu adalah awal bangkitnya perasaan-perasaan di antara kita. Aku berjanji untuk membelikanmu jus, berkata padamu agar mengingatkanku ketika bertemu agar tidak lupa dengan janjiku. Hari-hari yang entah berapa tanya-jawab telah kita lakukan, dilalui, dengan itu pula kedekatan mulai terbangun. Aku berharap dapat bertemu, untuk bisa menepati janji, aku tak tahu bagaimana denganmu. Tapi aku yakin bahwa kamu pun mulai merasakan akan adanya bibit-bibit kedekatan denganku, aku tak tahu, aku bukan paranormal, bukan pula seseorang yang dapat melihat pikiran orang lain.

Kita bertemu, aku, ya aku si cuek dan kadang pikirannya gila ini, tak sedikit pun peduli dengan keberadaanmu saat itu di dekatku. Aku hanya senyum dan melontarkan beberapa kata, sedangkan kamu seperti yang kecewa. Entahlah. Lagi-lagi aku tekankan jika aku terkadang memang tak peduli, tak peduli pada kekecewaanmu itu. Tapi hari itu berlalu, tanpa ada penyesalan sedikitpun. Continue reading

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Surat Kecil Untuk Seorang Malaikat

Dear malaikat,

Apa kabarmu saat menerima surat dariku ini? Aku harap kamu sedang dalam keadaan bahagia, sehat dan selalu semangat menjalankan tugasmu sebagai malaikat ketika kamu membaca surat ini. Mungkin juga kamu sedang dalam keadaan tidak menyenangkan saat menerima surat ini, aku tidak tahu. Tetapi aku selalu berharap kamu dalam keadaan baik-baik saja, aku selalu mendoakan kamu agar dapat menikmati hidupmu dan bersinar menerangi hari-harimu juga orang di sekitarmu. Melalui surat ini pula, aku ingin mengabari dirimu bahwa aku merindukanmu selalu, dalam keadaan sehat dan berharap untuk dapat menemui kamu kembali.

Kekosongan hari-hari dimana kita tak bertemu, membangkitkan kejenuhan-kejenuhan yang membuat diriku tertekan dan perasaan hampa melingkupi siang-siang dimana aku selalu melamun tentang dirimu, membayangkan apa yang sedang dirimu kerjakan, merasakan apa yang sedang menjadi ganjalan di hatimu, juga berusaha mengingat-ingat senyummu yang selalu kamu tebarkan dengan ramah kepada setiap pertemuan wajah-wajah yang bertatap denganmu. Continue reading

1 Comment

Filed under Fiksi

Harapan dan Perasaan

And so it is just like you said it would be
life goes easy on me most of the time and so it is the shorter story
no love, no glory, no hero in her sky
I can’t take my eyes off you
— Damien Rice, The Blower’s Daughter.

Harapan & PerasaanEngkau meraih tanganku lalu menarikku menuju sebuah bangku di taman. Kita duduk di sana sambil melihat beberapa anak kecil bermain dengan gembira. Kamu sepertinya ingin menunjukkan tingkah-polah anak-anak tersebut, bergerak, bersenda gurau tanpa ada beban, tanpa memikirkan esok ada hal buruk apa yang akan terjadi, tanpa peduli apakah orang tua mereka mencari atau tidak. Di sisi lain taman ada sebuah jembatan dimana di bawahnya mengalir sebuah sungai kecil buatan dan di atasnya beberapa orang mengambil foto dengan latar belakang gedung pencakar langit yang berada di dekat taman ini. Kamu menatapku sejenak lalu tersenyum dan aku pun membalas senyummu lalu kemudian pandanganmu kembali tertuju pada aktifitas anak-anak yang bermain di depan. Suara dedaunan yang diterpa angin terdengar diantara riuhnya suara anak-anak yang bermain dan air yang mengalir di bawah jembatan itu juga ikut menegaskan bahwa taman itu hidup dan ada dua manusia yang sedang menikmatinya. Continue reading

Leave a comment

Filed under Fiksi

Menolak Rindu

Semenjak langkah pertamaku keluar dari apartment tadi, aku memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengakhiri rasa rindu dihadapan Lola nanti. Rentetan kalimat-kalimat terbaik bergiliran tampil dalam pikiranku, sesekali menunjukkan dirinya merupakan kalimat terbaik dan tepat untuk digunakan sebagai penanda akhir perasaan rinduku pada makhluk cantik bernama Lola. Perjalanan udara selama 2 jam berlanjut dengan perjalanan darat selama 3 jam tetap saja kurang cukup untuk sekedar menemukan serta merangkaikan kata-kata sebagai pemupus rinduku kelak. Ditengah kegamangan itu, aku sesekali menatap pemandangan diluar kendaraan yang aku tumpangi, berharap mendapatkan inspirasi untuk kata-kata kepada Lola.

Berat rasanya langkah pertamaku keluar dari kendaraan travel yang membawaku semenjak bandara tadi. Beban rindu yang menggelumbang dalam hati terasa semakin menggunung, berat, seiring semakin dekatnya waktu dan jarak untuk diriku bertemu dengan Lola. Bahwasanya menolak rindu adalah menerima kenyataan bahwa aku dan Lola adalah suatu keterikatan hati yang tidak dapat dipisahkan. Jarak dan waktu yang ada menterjemahkan betapa besarnya kuasa rindu sebenar-benarnya dan akan semakin nyata saat kesunyian masing-masing berada pada puncaknya. Continue reading

1 Comment

Filed under Fiksi

Arda dan Urdu

Alkisah disebuah negeri antah berantah tersebutlah dua orang pemuda-pemudi yang tinggal di dua kota berbeda, kedua kota dipisahkan oleh jarak dua puluh hari berjalan kaki. Pemudi itu bernama Arda yang tinggal di kota B, sedangkan si pemuda Urdu tinggal di kota C. Arda dan Urdu belum pernah bertemu antara yang satu dengan yang lain, mereka berdua selalu saling mengisi dalam mimpinya masing-masing namun dengan muka yang tersamarkan, tetapi tetap saja tidak kenal. Kedua manusia muda ini adalah makhluk-makhluk yang sering mengalami kesialan, cenderung konyol terkadang.

Arda yang tinggal di kota B senang bernyanyi sambil membuat nasi uduk, kadang pula Arda bernyanyi sambil menatap cermin, cermin yang berbentuk layar televisi sehingga seolah-olah Arda berada di layar kaca. Entah sial atau bukan, terkadang karena keasyikan bernyanyi, Arda lupa akan nasi uduknya hingga gosong. Lain waktu karena keasyikan membuat nasi uduk, si Arda tersebut bernyanyi dengan nada “Balonku Ada Lima” namun liriknya “Lihat Kebunku”. Ahh.. Arda memang pemudi aneh. Continue reading

1 Comment

Filed under Fiksi