The truth can be written and tell the whole world.

bobotohteras

Sabtu kelabu, 1 Desember 2012. sebuah tanggal yang tentunya tidak akan pernah saya lupakan, tanggal dimana saya betul-betul merasakan bahwa memang benar perkataan guru ngaji saya dahulu, “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan”.

Ada sebuah fitnah menyasar pada sore itu di tribun utara stadion siliwangi, Bandung pada laga Inter Island Cup antara Persib melawan Gresik United. Fitnah yang berujung kepada 5 orang luka parah: 2 orang luka berat di kepala, 1 orang patah lengan, 1 orang patah pergelangan tangan dan seorang lagi luka tusuk di paha. Beberapa teman lainnya luka ringan. 3 orang sempat hilang tidak diketahui nasibnya. Menurut kabar yang dihimpun, salah satu diantaranya hilang ketika terpisah dari rombongan  dan dihajar massa secara membabi buta, bahkan diteriaki “Paehan.. Paehan” (Matikan). Astagfirullah, mengerikan.

Di tribun utara sore itu, tempat saya biasa nonton, dari arah sebelah kiri ada beberapa orang yang berkata-kata ke arah rombongan bobotoh lainnya. ia berkata bahwa di…

View original post 904 more words

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Cerita Kecil (Bag.III)

Cinta tak lain dari sumber kekuatan tanpa bendungan bisa mengubah, menghancurkan atau meniadakan, membangun atau menggalang. –Pramoedya Ananta Toer

Pada beberapa bagian kotaku, jalanan dibasahi oleh air hujan yang semenjak siang tadi tak juga reda. Aku memacu tungganganku menuju pusat kota dan menemukan kenyataan bahwa tak ada sedikit pun air menetes dari langit membasahi pusat kota. Kamu menyapaku ketika baru saja terbangun dari tidurmu melalui handphone-mu. Tak ada sedikit pun tanda-tanda yang akan membuat perasaan ini gusar. Hingga akhirnya kita harus mengakhiri cerita kecil ini yang tentunya membuat hati terperanjat. Setidaknya, semua berakhir dengan ujung yang sama sekali tak ada unsur kebencian.

Entah bagaimana perasaanmu saat harus menentukan akhir dari cerita kecil menulis cinta ini. Dari sisi diriku, aku merasakan kehancuran. Namun aku berpikir, bila itu yang terbaik, mengapa tidak. Tak semua yang harus diakhiri itu buruk dan tak selalu seluruh cerita berakhir bahagia, bukan? Kamu pasti tahu itu. Gelagat-gelagat buruk telah aku rasakan semenjak sebelum tidur kemarin malam dan memang seperti biasa, intuisiku berkata benar. Aku tak dapat mengelak sedikit pun dari kenyataan ini. Semenjak awal kedekatanku dengan kamu, aku sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, hingga akhirnya resiko yang telah diperhitungkan sejak awal benar-benar terjadi. Continue reading

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Cerita Kecil (Bag. II)

1
Hasrat ingin bertemu begitu menggebu-gebu, namun cuaca sama sekali tak mengijinkan kita untuk menuntaskan rasa rindu yang begitu melimpah. Hujan sedari siang tak kunjung menampakkan kebaikkannya sedikit pun untuk reda. Mengapa kamu hujan tak mengerti jika kita sudah sangat rindu untuk berjumpa.
Lagi-lagi, aku dan kamu hanya bisa berinteraksi melalui percakapan berupa tulisan di layar handphone. Alangkah menyiksanya perasaan ingin bertemu ini, perjumpaan tak kunjung menjadi kenyataan. Interaksi melalui media digital tak bisa mewakili sedikit pun rasa rindu. BBM, Line maupun video call tak ampuh memupuskan rindu.

Kita berbincang hingga pagi, hingga matahari mulai malu-malu mengintip di balik awan. Entah sudah berapa ratus ribu aksi jempol kita menekan setiap tuts huruf di handphone.
Kita memang butuh interaksi secara nyata.

Continue reading

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Cerita Kecil (Bag. I)

1
Sore itu aku sedang minum jus, ketika itu pula kamu sedang berkomunikasi denganku. Aku tak pernah tahu, apakah saat itu adalah awal bangkitnya perasaan-perasaan di antara kita. Aku berjanji untuk membelikanmu jus, berkata padamu agar mengingatkanku ketika bertemu agar tidak lupa dengan janjiku. Hari-hari yang entah berapa tanya-jawab telah kita lakukan, dilalui, dengan itu pula kedekatan mulai terbangun. Aku berharap dapat bertemu, untuk bisa menepati janji, aku tak tahu bagaimana denganmu. Tapi aku yakin bahwa kamu pun mulai merasakan akan adanya bibit-bibit kedekatan denganku, aku tak tahu, aku bukan paranormal, bukan pula seseorang yang dapat melihat pikiran orang lain.

Kita bertemu, aku, ya aku si cuek dan kadang pikirannya gila ini, tak sedikit pun peduli dengan keberadaanmu saat itu di dekatku. Aku hanya senyum dan melontarkan beberapa kata, sedangkan kamu seperti yang kecewa. Entahlah. Lagi-lagi aku tekankan jika aku terkadang memang tak peduli, tak peduli pada kekecewaanmu itu. Tapi hari itu berlalu, tanpa ada penyesalan sedikitpun. Continue reading

Leave a comment

Filed under Cerita Kecil

Catatan Dari Bawah Tanah. (Bagian II)

TENTANG SALJU BASAH

Kala dari kekhilafan penaklukan gelap

Kata-kata desakan garangku

Merenggutkan sukmamu yang layu hingga bebas;

Dan sambil menggeliat-geliat karena cederamu

Kaukenang kembali dengan kutukan

Kejahatan yang melingkupimu:

Dan kala kesadaranmu yang tertidur

Ketakutan karena nyala menyiksa dari ingatan,

Kau mengungkapkan latar belakang ngeri

Jalan hidupmu sebelum aku tiba:

Aku melihat kau tiba-tiba jadi mual.

Dan menyembunyikan muka sambil menangis, berontak, gila, negeri,

Karena ingatan pada aib yang keji.

                                                                                NEKRASSOV

 

1

WAKTU itu umurku baru dua puluh empat tahun. Bahkan di kala itu hidupku sudah suram, tak teratur, dan terpisah bagai seorang biadab. Aku tidak berkawan dengan siapa pun juga dan selalu mengelak untuk bicara dan menguburkan diri makin jauh dalam lobangku. Kala bekerja di kantor, aku tidak pernah memandang pada siapa pun jua, sedangkan aku sadar sekali bahwa kawan-kawan sejabatku memandang aku bukan saja sebagai seorang yang aneh, tapi bahkan menganggap aku – aku selalu merasakan ini – menjijikkan. Aku kadang-kadang bertanya pada diriku sendiri kenapa tidak ada orang lain kecuali aku yang merasa dirinya dipandang dengan penuh kebencian. Salah seorang kerani di antaranya memiliki muka yang lebih menjijikkan, muka yang bopeng dan yang kelihatannya pasti lebih jahat. Rasanya aku tidak akan sanggup memandang pada seseorang yang berwajah begitu tidak mengenakkan pandangan. Yang lain mengenakan seragam yang tua dan kotor hingga sekitarnya selalu tercium bau busuk. Tapi tak seorang pun dari tuan-tuan ini yang memperlihatkan kesadaran sedikit pun jua – baik mengenai pakaian atau wajah atau tingkah laku. Tak seorang pun di antara mereka yang pernah membayangkan bahwa orang melihat mereka dengan rasa jijik; sekiranya tahu bahwa mereka tidak akan keberatan – selama atasan mereka tidak memandang dengan cara begitu. Bagiku kini jelas, karena kekenesanku yang tak ada taranya dan karena ukuran tinggi yang kuperlakukan bagi diriku sendiri, maka aku sering memandang diriku sendiri dengan rasa tak puas, penuh kegeraman, yang sudah hampir-hampir menyerupai rasa jijik, sehingga dalam batinku aku mengira bahwa rasa itu dimiliki semua orang. Misalnya, aku benci pada mukaku: bagiku ia memuakkan, dan aku bahkan curiga bahwa pada air mukaku ada sesuatu yang busuk, hingga setiap hari aku datang ke kantor selalu berusaha untuk bertingkah-laku sebebas mungkin, dan memperlihatkan air muka yang luhur, supaya orang tidak menganggap aku hina. “Wajahku mungkin buruk,” kataku dalam hati, “tapi usahakanlah supaya ia luhur, ekspresif, dan lebih-lebih lagi, cerdik sekali. Tapi dengan pasti dan rasa perih aku yakin bahwa bagi mukaku mustahillah untuk mengutarakan sifat-sifat itu. Lebih celaka lagi, aku merasa mukaku kelihatan dungu. Aku akan puas sekali sekiranya dapat kelihatan cerdik. Bahkan, aku bersedia kelihatannya jahat, asal saja sekaligus wajahku bisa memberikan kesan yang pintar sekali. Continue reading

1 Comment

Filed under Dostoyevsky

Catatan Dari Bawah Tanah. (Bagian I)

BAWAH TANAH

1

AKU orang sakit … Aku orang pendendam. Aku orang yang tidak menarik. Aku yakin hatiku mengidap penyakit. Sungguhpun begitu, aku tidak tahu apa-apa tentang penyakitku, dan tidak tahu pasti penyakitku sebetulnya. Aku tidak pernah minta nasihat dokter, biarpun aku cukup menghargai ilmu kedokteran. (Pendidikanku cukup baik untuk tidak jadi orang penuh takhyul, namun sungguhpun begitu aku percaya takhyul). Tidak, aku menolak menemui dokter karena perasaan kesalku. Itu anda tentu tidak akan mengerti. Tapi aku mengerti. Tentu saja, aku tidak bisa menjelaskan siapa orang yang membuat aku sekarat dalam keadaan kesal ini: aku sadar betul bahwa aku tidak bisa “menyingkirkan” para dokter tanpa mendatangi mereka; aku tahu, lebih dari siapa pun juga, bahwa dengan berbuat begitu aku hanya merusak diriku dan bukan orang lain. Tapi pendeknya, kalau aku tidak mau minta nasihat dokter, maka itu kulakukan karena rasa kesal. Hatiku tidak sehat keadaannya, kalau ia mau lebih sakit, boleh saja!

Sudah lama aku seperti ini – dua puluh tahun. Kini umurku empat puluh. Dulu aku jadi pejabat pemerintah, tapi kini tidak lagi. Aku seorang pejabat yang penuh rasa kesal. Aku kasar dan merasa puas bersikap begitu. Soalnya, aku tidak mau menerima sogokan , dan karena itu aku setidak-tidaknya harus dapat imbalan lain. (Olok-olok yang tidak berpadanan, tapi ini tidak akan kucoret. Aku menuliskannya, karena kukira ini akan bijak sekali kedengarannya; tapi setelah aku sendiri sadar, bahwa aku sebetulnya hanya ingin pamer dengan cara yang memuakkan, dengan sengaja aku tidak mau mencoretnya.) Continue reading

4 Comments

Filed under Dostoyevsky

Makan Malam Termewah

Senja mulai pudar dan malam mulai terang intensitasnya, aku menyusuri kotamu selepas kamu menjemputku dari tempat paling melankolis yang beberapa kali aku singgahi pada setiap kota atau negara yang ku kunjungi. Kamu mengajakku untuk menikmati indahnya malam di kotamu, malam-malam terang dimana kota paling modern tak pernah tertidur dan hati yang bersinar tak pernah padam pada sebuah harapan yang kami nyalakan malam itu.

Kamu menghentikan mobilmu pada sebuah tempat, persis di tengah kota, dimana di situ berdiri sebuah ikon kota bahkan negaramu. Sebuah tempat makan yang tak terlalu mewah-mewah amat, cenderung redup bila dibandingkan dengan lampu-lampu jalanan dan pendaran cahaya dari gedung-gedung pencakar langit. Remangnya tempat itu menciptakan kesan romantis dengan latar belakang gedung pencakar langit yang gagah seolah menusuki langit dengan ujung menara yang tajam menjulang. Beberapa pasangan berada di tempat itu, menjalin kasih, saling bercerita atau sekedar mengisi mengisi perut yang lapar. Ada juga beberapa anak muda yang menghabiskan malam di situ, tertawa, bersendagurau dan terkadang melirik-lirik pada setiap manusia yang lewat di sekitarnya. Continue reading

Leave a comment

Filed under Cuap-cuap