Tag Archives: gadis pantai

Tentang Buku: Gadis Pantai

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini.. Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.” — Pramoedya Ananta Toer

2013-02-13-02-03-50_decoSetelah sekian lama terselip diantara buku-buku di raknya, akhirnya dapat dibaca hingga tuntas juga buku Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Tour ini dan saya memutuskan untuk membuat review tentang salah satu roman terbaik Pram ini. Karya-karya Pramoedya memang selalu memukau buat saya, apalagi setelah membaca beberapa buku karangannya. Pram melakukan kritik melalui karyanya sekaligus memberi pencerahan kepada para pembacanya. Bagaimana mendeskripsikan budaya buruk yang begitu akut di dalam kebiasaan bangsanya, bagaimana menyelipkan potongan-potongan sejarah bangsanya ke dalam sebuah cerita, hingga bagaimana memberikan contoh pemikiran melalui kisah yang tidak begitu jauh dari kehidupan, semuanya dilakukan melalui tulisan.

Gadis Pantai merupakan sebuah roman yang menguraikan bagaimana buruknya feodalisme yang ada di dalam budaya Jawa sangat tidak memiliki adab, tidak manusiawi dan juga sekaligus sebuah roman yang menuturkan kisah cinta atau hubungan antara atasan dan bawahan, antara ibu dan anak, antara manusia dan sekitarnya, yang begitu kentara baik dari sisi humanisnya maupun dari sisi materilnya. Seorang gadis berparas cantik dan merupakan bunga desa yang masih berumur empat belas tahun tersebut harus menerima kenyataan untuk dijadikan seorang Mas Nganten (pemuas seks laki-laki) oleh seorang pembesar yang disebut Bendoro, sebelum memiliki seorang istri sebenarnya yang berasal dari kelasnya atau sederajat dengannya . Kisah diceritakan dengan settingan lokasi di karesidenan Jepara, Rembang pada akhir abad 19-an. Roman yang sejatinya adalah merupakan trilogi ini hanya merupakan bagian pertamanya saja, sedangkan bagian kedua dan ketiga dari Gadis Pantai telah musnah dibakar oleh sebuah keganasan kekuasaan dan kepicikan pikiran. Beruntung sekuel pertamanya bisa terselamatkan dan dicetak kemudian diperbanyak menjadi sebuah buku setebal 270 halaman. Buku ini memiliki sampul depan bergambar seorang gadis kampung yang berwajah bulat, dilatar belakangi dengan gambar pantai dan juga seorang priyayi yang dipayungi oleh pengabdinya. Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Tentang Buku