Gadget Adalah Candu

Terlalu berlebihan memang jika menyebut gadget sebagai sebuah candu. Namun fenomena yang terjadi luas di kalangan manusia modern saat ini tak menutup kemungkinan pengistilahan tersebut. Banyak orang yang memiliki ketergantungan terhadap gadget seperti halnya ketergantungan terhadap candu atau opium, baik itu berupa telepon genggam, tablet, notebook hingga perangkat elektronik lainnya. Gadget sendiri adalah istilah untuk sebuah perangkat elektronik yang memiliki fungsi khusus, seperti misalnya telepon genggam yang berfungsi untuk melakukan komunikasi suara jarak jauh serta kirim-terima pesan pendek dan saat ini fungsinya melebar tidak hanya sebagai dua hal tersebut tetapi menjadi perangkat multimedia mini.

Ketergantungan orang-orang terhadap gadget dapat dengan kentara terlihat dalam kesehariannya. Ketika baru bangun tidur, hal pertama yang dilakukan biasanya adalah menggapai telepon genggam untuk memeriksa apakah ada notifikasi yang masuk atau tidak. Sampai ketika ingin menutup mata tak lupa untuk memberitahukan kepada khalayak ramai seantero media sosial bahwa dirinya akan tidur lalu memasang bel penanda bangun diaktifkan dan kemudian gadgetnya diletakkan di tempat terdekat dan mudah terjangkau oleh tangan ketika terbangun. Continue reading

Advertisements

Leave a comment

Filed under Cuap-cuap

Kang Ibing dan Musik Persib

Kang IbingBanyak seniman besar yang berasal dari tanah Pasundan, salah satunya adalah Raden Aang Kusmayatna Kusumadinata atau yang lebih populer dengan panggilan Kang Ibing. Beristrikan Ny. Nieke, Kang Ibing dianugerahi tiga orang anak, yaitu Kusmadika, Kusmandana dan Diane. Logat bicaranya yang kental dengan dialek khas Sunda, peci sebagai penutup kepala dan sarung yang selalu diselendangkan pada tubuhnya menjadi ciri khas yang melekat pada Kang Ibing. Ciri khas tersebut berhasil menggambarkan kesederhanaan sosok yang humoris dan pandai melawak tersebut pada diri Kang Ibing.

Seniman ranah Jawa Barat yang lahir di Sumedang pada tanggal 20 Juni 1946 ini pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Sastra Unpad Jurusan Sastra Rusia namun tidak sampai lulus. Pada saat masih duduk di bangku kuliah, Kang Ibing pernah menjabat sebagai Ketua Kesenian Daya Mahasiswa Sunda, Penasihat Departemen Kesenian Unpad dan juga pernah menjadi asisten dosen di Fakultas Sastra Unpad. Pada Desember 2010, sebuah penghargaan khusus diberikan kepada Kang Ibing bersama empat orang lainnya sebagai warga Jabar terbaik yang selama hidupnya memiliki dedikasi dan loyalitas dalam menjalankan profesinya hingga mengangkat citra Jawa Barat di tingkat nasional hingga internasional.

Kang Ibing mengawali karirnya ketika menjadi pembawa acara Obrolan Rineh di Radio Mara Bandung. Kemudian pada tahun 1970-an, bersama dengan Aom Kusman, Suryana Fatah, Wawa Sofyan dan Ujang, beliau membentuk grup lawak De Kabayan. Di tahun 1975, film Si Kabayan yang disutradarai oleh Sofyan Sharma merupakan debut Kang Ibing dalam berakting. Berperan sebagai tokoh utama, Kang Ibing cukup sukses memerankan Si Kabayan, seorang tokoh legendaris cerita rakyat Pasundan, dan film tersebut mengantarkannya menuju puncak popularitas. Tidak hanya dalam satu film itu saja, selanjutnya Kang Ibing juga beberapa kali tampil dalam beberapa film lainnya, seperti Ateng The Godfather (1976), Bang Kojak (1977), Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), Boss Carmad (1990), Komar Si Glen Kemon Mudik (1990), Warisan Terlarang (1990) dan Di Sana Senang Di Sini Senang (1990). Selain mahir sebagai pelawak dan aktor, Kang Ibing juga melantunkan tembang-tembang khas Sunda. Continue reading

Leave a comment

Filed under Football

Mencari Makna Baru Dari Sebuah Perjalanan

We travel, some of us forever, to seek other states, other lives, other souls.” –Anaïs Nin

Seorang novelist asal Prancis, Anaïs Nin, pernah menulis dalam bukunya The Diary of Anaïs Nin volume terakhir, bahwa perjalanan adalah untuk mencari kehidupan baru, jiwa baru sampai era-era kebesaran yang pernah hidup di dunia. Banten, sebagai salah satu propinsi yang terbilang baru di Indonesia menjadi alasan agar dikunjungi untuk menemukan hal-hal baru. Letaknya yang bersebelahan dengan provinsi Jawa Barat dan Jakarta, membuatnya begitu dekat dan mudah untuk dikunjungi. Banyak spot menarik yang bisa dilihat, mulai dari wisata sejarah hingga wisata alam. Provinsi yang dianugerahi keindahan alam yang indah ini menyajikan berbagai pilihan pantai yang indah, mulai dari pantai Anyer yang cukup populer, pantai Tanjung Lesung, hingga pantai Sawarna. Dari wisata sejarahnya pun tak kalah menarik untuk disimak, bagaimana kerajaan Islam Banten pernah ada, tersaji melalui sisa-sisa bangunan dan puing-puing yang kondisinya –sayang sekali- tak utuh.

Beberapa minggu ke belakang, saya berkesempatan untuk menjelajahi provinsi Banten ini. Penyusuran dimulai dari Serang di utara, Pandeglang hingga Bayah di selatan. Berangkat dari kawasan Semanggi di Jakarta menggunakan mobil dengan beberapa kawan melalui ruas tol Jakarta-Merak dan keluar di pintu tol Serang Timur. Dengan lancar dan tanpa kendala kemacetan, durasi perjalanan Jakarta-Serang ditempuh selama kurang-lebih dua jam. Tujuan pertama adalah Mall of Serang (MOS) untuk bertemu dengan seorang kawan lain, yang kebetulan dia berdomisili dan mengenal seluk beluk Banten.

Dari MOS, tujuan berikutnya adalah Keraton Kaibon yang merupakan salah satu bangunan penting peninggalan kesultanan Banten. Sepanjang perjalanan menuju Keraton Kaibon dapat ditemukan beberapa makam para pembesar yang pernah ada di Banten. Kaibon adalah sebuah istana yang digunakan untuk tempat tinggal Ratu Aisyah. Menurut catatan sejarah, nama Kaibon mengandung arti keibuan, karena waktu itu juga Ratu Aisyah menjadi ibunda Sultan Syaifudin saat memegang jabatan sebagai sultan ke 21 Banten dan baru berumur sekitar 5 tahun. Bangunan tersebut hanya menyisakan puing-puing dan beberapa gapura termakan usia, yang menurut kabar hancur oleh Belanda saat terjadi penyerbuan ke kerajaan Banten pada abad 18. Bangunan yang menghadap ke arah barat tersebut dikelilingi saluran air. Beberapa anak-anak nampak dengan leluasa bermain sepakbola di bagian yang cukup lapang di dalam komplek istana Kaibon tersebut. Continue reading

Leave a comment

Filed under Catatan Perjalanan

86: Semua Beres, Tahu Sama Tahu

Beberapa minggu ke belakang, saya mencari buku Maryam karya Okky Madasari di sebuah online shop, namun sudah habis. Saya mencari novel tersebut karena penasaran dan ingin sekali membacanya karena memenangi Anugerah Khatulistiwa Literary Award 2012. Absurb yah alasannya. hahaha.. Dikarenakan telah habis, akhirnya saya memutuskan untuk membeli novel lain karya Okky di online shop tersebut, yaitu novel berjudul 86. Memang saya cukup terlambat membaca buku yang diterbitkan tahun 2011 ini, namun saya anggap tak ada salahnya saya membacanya ketimbang tidak sama sekali, juga sebagai perkenalan saja untuk mengetahui bagaimana karya penulis ini dan bila sudah tersedia kembali novel Maryam, pasti saya akan membelinya.

Sampul Novel 86

Sampul Novel 86

Dengan desain sampul karya Restu Ratnaningtyas yang sederhana, dengan warna dominan kuning dan suatu gambar ilustrasi berbentuk angka 8 (delapan) dan 6 (enam) memang kurang menarik, tetapi setelah membacanya saya menemukan kenyamanan untuk terus menelusuri isi dari novelnya. Seperti candu, setiap lembarnya dilahap tanpa ada perasaan ingin berhenti membaca. Okky cukup pandai memilih kata-kata, tanpa bunga-bunga kalimat, langsung pada intinya, sehingga mau tidak-mau saya terhipnotis untuk terus membacanya sampai habis. Selama tiga hari, disela-sela kesibukan pekerjaan kantor saya habiskan novel setebal 252 halaman ini.

Novel ini menceritakan tentang Arimbi, seorang perempuan yang polos, berasal dari desa di Jawa dan kemudian hijrah ke Jakarta menjadi seorang juru ketik di pengadilan negeri. Ceritanya diawali dengan keadaan mula-mula Arimbi yang hidup pas-pasan, tinggal disebuah rumah kontrakan yang terletak di kawasan cukup pengap dan terbilang kumuh di Jakarta. Sebagai pegawai yang boleh dibilang rendah pada struktur kepegawaian pengadilan negeri, gaji bulanan Arimbi memang tak cukup untuk mendapatkan tempat tinggal yang cukup mumpuni. Dari situ, cerita sedikit mundur ke belakang lagi, ketika Arimbi harus tinggal di tempat yang tidak lebih baik ketimbang tempatnya di Jakarta, saat dia masih kuliah di Solo. Beruntung dia dapat menyelesaikan kuliahnya walau dengan dana yang terbatas, dibantu juga dengan kondisinya sebagai anak tunggal yang kiriman biaya hidupnya tak keteteran terbagi dengan yang lain.

Arimbi memiliki seorang atasan bernama Bu Danti, seorang panitera yang sudah cukup lama bekerja di pengadilan. Bu Danti digambarkan sebagai orang yang supel, banyak bicara dan selalu gembira sepanjang hari. Sebagai atasan, Bu Danti tak segan untuk menyapa atau bergaul dengan bawahannya. Dengan kata lain, Dia adalah tipikal atasan yang disukai oleh bawahannya. Arimbi memiliki seorang teman bernama Anisa yang memiliki kedudukan yang sama di tempat kerjanya . Mereka berdua senang bergosip, membicarakan perihal Bu Danti yang selingkuh atau hal lain seputar pekerjaan mereka. Anisa yang bekerja lebih lama ketimbang Arimbi juga banyak tahu tentang orang-orang di pengadilan. Continue reading

Leave a comment

Filed under Tentang Buku

Tentang Buku: Gadis Pantai

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini.. Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.” — Pramoedya Ananta Toer

2013-02-13-02-03-50_decoSetelah sekian lama terselip diantara buku-buku di raknya, akhirnya dapat dibaca hingga tuntas juga buku Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Tour ini dan saya memutuskan untuk membuat review tentang salah satu roman terbaik Pram ini. Karya-karya Pramoedya memang selalu memukau buat saya, apalagi setelah membaca beberapa buku karangannya. Pram melakukan kritik melalui karyanya sekaligus memberi pencerahan kepada para pembacanya. Bagaimana mendeskripsikan budaya buruk yang begitu akut di dalam kebiasaan bangsanya, bagaimana menyelipkan potongan-potongan sejarah bangsanya ke dalam sebuah cerita, hingga bagaimana memberikan contoh pemikiran melalui kisah yang tidak begitu jauh dari kehidupan, semuanya dilakukan melalui tulisan.

Gadis Pantai merupakan sebuah roman yang menguraikan bagaimana buruknya feodalisme yang ada di dalam budaya Jawa sangat tidak memiliki adab, tidak manusiawi dan juga sekaligus sebuah roman yang menuturkan kisah cinta atau hubungan antara atasan dan bawahan, antara ibu dan anak, antara manusia dan sekitarnya, yang begitu kentara baik dari sisi humanisnya maupun dari sisi materilnya. Seorang gadis berparas cantik dan merupakan bunga desa yang masih berumur empat belas tahun tersebut harus menerima kenyataan untuk dijadikan seorang Mas Nganten (pemuas seks laki-laki) oleh seorang pembesar yang disebut Bendoro, sebelum memiliki seorang istri sebenarnya yang berasal dari kelasnya atau sederajat dengannya . Kisah diceritakan dengan settingan lokasi di karesidenan Jepara, Rembang pada akhir abad 19-an. Roman yang sejatinya adalah merupakan trilogi ini hanya merupakan bagian pertamanya saja, sedangkan bagian kedua dan ketiga dari Gadis Pantai telah musnah dibakar oleh sebuah keganasan kekuasaan dan kepicikan pikiran. Beruntung sekuel pertamanya bisa terselamatkan dan dicetak kemudian diperbanyak menjadi sebuah buku setebal 270 halaman. Buku ini memiliki sampul depan bergambar seorang gadis kampung yang berwajah bulat, dilatar belakangi dengan gambar pantai dan juga seorang priyayi yang dipayungi oleh pengabdinya. Continue reading

Leave a comment

Filed under Tentang Buku

Tentang Buku: Miljan Radovic – Selangkah Lebih Maju

Miljan Radovic

Miljan Radovic & Budi Bram

Seorang pemain sepakbola terkadang mendapatkan pengalaman yang cukup berkesan bersama klub sepakbola yang dibelanya. Miljan Radovic adalah salah satu pemain sepakbola profesional yang mendapatkan pengalaman berkesan tersebut bersama Persib Bandung, walau hanya satu setengah musim dia tergabung di sana. Kesan-kesan itu dituturkan pemain asal Montenegro tersebut dalam sebuah buku berjudul “Selangkah Lebih Maju” yang dituliskan oleh istrinya sendiri, Jelena Radovic. Jelena Radovic sendiri adalah seorang lulusan fakultas filsafat, jurusan fakultas Sastra dan Bahasa Sastra. Buku setebal 74 halaman dengan sampul yang berwarna dominan biru dengan foto dirinya yang sedang melakukan selebrasi khas tersebut diluncurkan pada tanggal 23 Desember 2012 di Bandung. Selain cerita pengalamannya, buku ini juga disisipi foto-foto Miljan saat masih kecil dan saat bermain di lapangan dengan Persib Bandung.

Pada halaman awal buku tersebut dibuka oleh kata pengantar dari Harri Firmansyah, S.Mb, CHT, CNLP. sebagai seorang motivator bagi klub Persib Bandung. Kemudian beberapa orang yang dekat dengan Miljan juga menceritakan bagaimana Miljan seperti yang mereka kenal, mulai dari rekan satu tim di Persib hingga elemen bobotoh. Kesan positif seorang Miljan dituturkan oleh orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya pada bagian tersebut. Bagian selanjutnya adalah 12 bab yang menceritakan setiap pengalaman hidup yang pernah dialami dan disisipi dengan cerita masa kecilnya. Continue reading

Leave a comment

Filed under Tentang Buku

Kala Langit Mulai Redup dan Lampu Mulai Dinyalakan.

Semalam kamu menginap di rumahku, sama sekali tak ada batasan yang menghalangi mu untuk tidur di kasur yang sama denganku. Kita terlalu dekat bila hanya disebut sebagai seorang teman atau sahabat, namun terlalu naif bila kita memiliki hubungan sebagai sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Entahlah, hubungan yang tak jelas ini sangat aku dan kamu nikmati, tanpa peduli hubungan pacar atau sekedar teman. Setidaknya kita selalu saling dibutuhkan disaat aku atau kamu membutuhkan, kita saling tersedia bila diperlukan.

Sore itu hujan deras tak kunjung reda dan cuaca dingin melingkupi rumahku. Sudah dua hari kamu menginap di rumahku. Kebetulan aku pun sedang malas untuk pergi ke kantor, beberapa pekerjaan aku lakukan dari rumah saja. Kamu pun sedang tak ada perkuliahan, sehingga memiliki waktu luang untuk bersantai denganku. Berbagai aktifitas kamu lakukan di rumahku, seperti memasak, membersihkan rumah dan juga merawat bunga-bunga di taman belakang rumahku. Bunga-bunga itu adalah permintaan darimu sendiri, hingga mau tidak mau, kamu juga harus bertanggung jawab untuk merawatnya.
Continue reading

Leave a comment

Filed under Cuap-cuap